SEJARAH, ONTOLOGI, EPISTEMOLLOGI DAN AKSIOLOGI DALAM FILSAFAT. yusranhusain
SEJARAH, ONTOLOGI, EPISTEMOLLOGI DAN
AKSIOLOGI DALAM FILSAFAT
Sejarah Filsafat
Filsafat ilmu berasal
dari zaman Yunani
Kuno, di mana
filsafat ilmu lahir karena munculnya sebuah pengetahuan dari Barat. Akan
tetapi, pada perkembangannya
ternyata ilmu pengetahuan di abad ke-17 mengalami perpecahan, di mana ilmu
dan filsafat berdiri sendiri.
Dengan
demikian, dapat dikemukakan bahwa sebelum abad
ke-17 ilmu identik dengan filsafat. Pendapat tersebut
sejalan dengan pemikiran Van Peursen
(1985) yang mengemukakan bahwa
dahulu ilmu merupakan
bagian dari filsafat, sehingga definisi
tentang ilmu bergantung pada
sistem filsafat yang
dianut.
Koento
Wibisono menyatakan bahwa filsafat itu sendiri telah mengantarkan adanya suatu
konfigurasi dengan menunjukkan
bagaimana “pohon ilmu pengetahuan” telah tumbuh
mekar-bercabang secara subur.
Seiring dengan
berkembangnya ilmu pengetahuan
dapat dipahami bahwa
para filsuf Yunani Kuno
ternyata telah merintis
tentang pengertian apa itu
filsafat ilmu dan
bagaimana ilmu pengetahuan itu harus diletakkan? Ilmu
pengetahuan menampakkan diri sebagai masyarakat,
sebagai proses dan
sebagai produk, di
mana kaidah-kaidah ilmu
pengetahuan itu dikatakan
oleh Robert Merton
adalah universalisme, komunalisme,
disinterestedness dan skeptisisme yang terarah (Wibisono, 2009:2).
Filsafat dan
ilmu adalah dua
kata yang saling
terkait, baik secara
substansial maupun historis
karena kelahiran ilmu tidak lepas dari peranan filsafat, sebaliknya
perkembangan ilmu memperkuat keberadaan filsafat. Pada perkembangannya, ilmu
terbagi dalam beberapa disiplin, yang
membutuhkan pendekatan, sifat,
objek, tujuan dan
ukuran yang berbeda
antara disiplin ilmu yang
satu dengan yang
lainnya. Pembahasan filsafat ilmu
sangat penting karena akan mendorong manusia
untuk lebih kreatif
dan inovatif. Filsafat
ilmu memberikan spirit
bagi perkembangan dan kemajuan ilmu dan sekaligus nilai-nilai moral yang
terkandung pada setiap ilmu baik pada tataran ontologis, epistemologis maupun
aksiologi.
Menyadari pentingnya
peran dari filsafat
ilmu dalam konteks
pengetahuan sains maka makalah
ini menyebutkan beberapa
hal tentang bagaiaman proses
fenomena tersebut terjadi, bagaimana hukum
atau teori yang
telah dikemukakan oleh
para ilmuwan, dan
apakah hakikat dari ilmu sains
itu (ontologi, epistimologi dan
aksiologi sains), bagaimana
cara sains menyelesaikan
masalah, dan apa sajakah manfaat sains dalam kehidupan manusia. Hal tersebut
akan dibahas lebih luas dan mendalam dalam makalah ini.
2.
Pengertian
Ontologi
meliputi apa hakikat ilmu itu, apa hakikat
kebenaran dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan ilmiah, yang tidak
terlepas dari persepsi filsafat tentang apa dan bagaimana (yang) “Ada” itu (being Sein, het zijn). Paham monisme yang
terpecah menjadi idealisme atau spiritualisme, Paham dualisme, pluralisme
dengan berbagai nuansanya, merupakan paham ontologik yang pada akhimya
menentukan pendapat bahkan keyakinan kita masing‑masing mengenai apa dan
bagaimana (yang) ada sebagaimana manifestasi kebenaran yang kita cari.
Menurut
bahasa, Ontology berasal dari bahasa Yunani yaitu : On/Ontos = ada, dan Logos =
ilmu. Jadi, ontologi adalah ilmu tentang yang ada.
Menurut
istilah, Ontology adalah ilmu yang
membahas tentang hakikat
yang ada, yang merupakan ultimate reality baik yang
berbentuk jasmani/konkret maupun rohani/abstrak (Bakhtiar , 2004).
Menurut
Suriasumantri (1985), Ontology membahas
tentang apa yang
ingin kita ketahui,
seberapa jauh kita ingin
tahu, atau, dengan
kata lain suatu
pengkajian mengenai teori
tentang “ada”. Telaah ontologis
akan menjawab pertanyaan-pertanyaan :
apakah
obyek ilmu yang akan ditelaah, bagaimana wujud yang hakiki dari obyek tersebut,
dan bagaimana hubungan antara
obyek tadi dengan
daya tangkap manusia (seperti berpikir, merasa, dan mengindera)
yang membuahkan pengetahuan.
a)
Ontologi
Sains/Ilmu
Ilmu atau
science secara harfiah
berasal dari kata
Latin scire yang berarti mengetahui.
Karena itu, science dapat
diartikan “situasi” atau fakta mengetahui,
sepadan dengan
pengetahuan (knowledge), yang
merupakan lawan dari
intuisi atau kepercayaan.
Selanjutnya, kata science
mengalami perkembangan dan
perubahan makna menjadi “pengetahuan yang sistematis yang berasal dari
observasi,kajian, dan percobaan - percobaan yang dilakukan untuk mengetahui
sifat dasar atau prinsip dari apa yang
dikaji.
Dengan demikian,
sains yang berarti
“pengetahuan” berubah menjadi “pengetahuan yang
sistematis yang berasal
dari observasi indrawi.” Perkembangan berikutnya, lingkup
sains hanya terbatas
pada dunia fisik,
sejalan dengan definisi lain tentang sains sebagai “pengetahuan yang
sistematis tentang alam dan dunia fisik ”.
Dengan
mensyaratkan observasi, sains harus bersifat empiris, baik berhubungan dengan
benda-benda fisik, kimia, biologi, dan astronomi maupun berhubungan dengan
psikologi dan sosiologi.
Inilah karakter sains
yang paling mendasar
dalam pandangan epistemologi
konvensional. Sains merupakan produk eksperimen yang bersifat empiris.
Eksperimen dapat dilakukan, baik terhadap
benda - benda mati (anorganik)
maupun makhluk hidup sejauh
hasil eksperimen dapat diobservasi secara
indrawi. Eksperimen pun dapat
dilakukan terhadap manusia, seperti yang
dilakukan Waston dan
penganut aliran behaviorisme klasik lainnya.
3.
Pengertian
Epistemologi
meliputi sumber, sarana, dan tatacara mengunakan sarana
tersebut untuk mencapai pengetahuan (ilmiah). Perbedaan mengenal pilihan
landasan ontologik akan dengan sendirinya mengakibatkan perbedaan dalam
menentukan sarana yang akan kita pilih. Akal (Verstand), akal budi (Vernunft) pengalaman, atau
komunikasi antara akal dan pengalaman, intuisi, merupakan sarana yang dimaksud
dalam epistemologik, sehingga dikenal adanya model‑model epistemologik seperti:
rasionalisme, empirisme, kritisisme atau rasionalisme kritis, positivisme, fenomenologi
dengan berbagai variasinya. Ditunjukkan pula bagaimana kelebihan dan kelemahan
sesuatu model epistemologik beserta tolok ukurnya bagi pengetahuan (ilmiah)
itu seped teori koherensi, korespondesi, pragmatis, dan teori intersubjektif.
Secara
etimologi, epistemologi merupakan kata gabungan yang diangkat dari dua kata
dalam bahasa Yunani, yaitu episteme dan logos. Episteme artinya
pengetahuan, sedangkan logos
lazim dipakai untuk
menunjukkan adanya pengetahuan
sistematik. Dengan demikian epistemologi
dapat diartikan sebagai pengetahuan
sistematik mengenai pengetahuan. Epistemologi atau
teori pengetahuan ialah cabang filsafat
yang berurusan dengan
hakekat dan lingkungan pengetahuan, pengandaian - pengandaian, dan
dasar - dasarnya serta
pertanggungjawaban atas pernyataan
mengenai pengetahuan yang
dimiliki. (Dwi Hamlyn, History of Epstemology, dalam Amsal Bakhtiar.
2004 : 148).
Epistemologi adalah
pembahasan mengenai metode
yang digunakan untuk mendapatkan pengetahuan. Epistemologi membahas
pertanyaan - pertanyaan
seperti: bagaimana proses
yang memungkinkan diperolehnya
suatu pengetahuan? Bagaimana prosedurnya?
Hal – hal apa yang harus
diperhatikan agar kita mendapatkan
pengetahuan yang benar?
Lalu benar itu
sendiri apa? Kriterianya apa
saja? (Idris, Epistemologi / Filsafat pengetahuan. 2010). Dalam Kamus Webster disebutkan bahwa
epistemologi merupakan “Teori
ilmu pengetahuan (science) yang melakukan
investigasi mengenai asal - usul,
dasar, metode, dan batas - batas
ilmu pengetahuan Mengapa sesuatu disebut ilmu.
Metode - Metode Untuk Memperoleh Ilmu
Pengetahuan
a)
Empirisme
Empirisme adalah
suatu cara/metode dalam
filsafat yang mendasarkan cara
memperoleh pengetahuan dengan melalui pengalaman. John Locke,
bapak empirisme Britania, mengatakan bahwa pada waktu manusia di
lahirkan akalnya merupakan jenis catatan
yang kosong (tabula rasa),dan
di dalam buku
catatan itulah dicatat pengalaman - pengalaman inderawi.
Menurut Locke,
seluruh sisa pengetahuan kita
diperoleh dengan jalan menggunakan serta memperbandingkan ide - ide yang
diperoleh dari penginderaan serta refleksi yang pertama - pertama dan sederhana
tersebut. Ia memandang akal sebagai
sejenis tempat penampungan,yang secara pasif menerima hasil - hasil
penginderaan tersebut. Ini berarti semua pengetahuan kita betapapun
rumitnya dapat dilacak
kembali sampai kepada
pengalaman - pengalaman inderawi yang pertama - tama, yang dapat
diibaratkan sebagai atom - atom yang menyusun
objek - objek material. Apa
yang tidak dapat
atau tidak perlu di lacak kembali
secara demikian itu bukanlah pengetahuan, atau setidak - tidaknya bukanlah
pengetahuan mengenai hal - hal yang factual.
b)
Rasionalisme
Rasionalisme berpendirian
bahwa sumber pengetahuan
terletak pada akal. Bukan karena
rasionalisme mengingkari nilai
pengalaman, melainkan
pengalaman paling - paling dipandang
sebagai sejenis perangsang
bagi pikiran. Para penganut
rasionalisme yakin bahwa
kebenaran dan kesesatan
terletak di dalam ide
kita, dan bukannya di
dalam diri barang
sesuatu. Jika kebenaran mengandung makna mempunyai ide yang
sesuai dengan atau menunjuk kepada kenyataan,
maka kebenaran hanya dapat
ada di dalam
pikiran kita dan
hanya dapat diperoleh dengan akal budi saja.
c)
Fenomenalisme
Bapak Fenomenalisme
adalah Immanuel Kant.
Kant membuat uraian tentang pengalaman. Barang sesuatu
sebagaimana terdapat dalam dirinya sendiri merangsang alat inderawi kita dan
diterima oleh akal kita dalam bentuk - bentuk pengalaman dan disusun secara
sistematis dengan jalan
penalaran. Karena itu kita
tidak pernah mempunyai
pengetahuan tentang barang
sesuatu seperti keadaannya sendiri,
melainkan hanya tentang
sesuatu seperti yang
menampak kepada kita, artinya, pengetahuan tentang gejala (Phenomenon).
Bagi Kant para
penganut empirisme benar
bila berpendapat bahwa semua
pengetahuan didasarkan pada
pengalaman - meskipun benar hanya
untuk sebagian. Tetapi para
penganut rasionalisme juga
benar, karena akal memaksakan bentuk - bentuknya sendiri
terhadap barang sesuatu
serta pengalaman.
4.
Aksiologi
Secara etimologis,
Aksiologi berasal dari
dari bahasa Yunani, axios, yang berarti
nilai, dan logos, yang
berarti teori. Terdapat
banyak pendapat tentang pengertian aksiologi.
Menurut Jujun S.
Suriasumantri aksiologi adalah
teori nilai yang berkaitan dengan
kegunaan dari ilmu pengetahuan yang diperoleh. Menurut Kamus Bahasa
Indonesia (1995:19) aksiologi
adalah kegunaan ilmu pengetahuan
bagi kehidupan manusia,
kajian tentang nilai - nilai
khususnya etika. Menurut
Wibisono (dalam Surajiyo,
2009:152) aksiologi adalah
nilai – nilai sebagai tolak ukur
kebenaran, etika dan
moral sebagai dasar
normative penelitian dan
penggalian, serta penerapan ilmu.
Karena manfaat
ilmu sesungguhnya terasakan
jika ada banyak orang
dapat mengapresiasikan dan menerima
ilmu sebagai suatu
kebaikan kolektif atau untuk kepentingan orang banyak sehingga akan
kembali kebaikan tersebut kepada diri orang yang menemukannya.
Komentar
Posting Komentar